Sepasang Sepatu yang Nyaman

Sepasang sepatu yang terpilih, pasti merupakan kesimpulan dan pemenang dari seluruh model dan harga yang ada. Untuk saya, sepatu yang biasanya saya pilih tidaklah harus sepatu yang mahal dan bermerk, bahkan sandal jepitpun sering menjadi alternative pilihan saya dibandingkan dengan sekian merk mahal sepatu disandingannya.
Pernah sekali waktu saya membeli sepasang sepatu yang mahal untuk ukuran kantong tu itu, saya, dengan pertimbangan bahwa sepatu itu akan terlihat bagus dikaki saya, saya akan terupgrade sekian grade dalam kelas social yang lebih tinggi, dan tentu saja saya akan sangat bangga dan percaya diri ketika menggunakannya. Meskipun saat pertama mencoba mengepasnya, tumit saya terasa sakit, tapi dengan keyakinan bahwa satu saat nanti pasti tumit saya akan terbiasa dengan sepatu tersebut, saya tetap membelinya.
Pertama mencoba sepatu itu, tumit saya lecet dan akibatnya kaki saya sakit selama seminggu sampai dengan bengkak di kaki saya hilang. Kemudian saya kembali memaksakan menggunakannya disaat lain, dengan harapan pasti akan nyaman, toh saya sudah melewati penderitaan selama seminggu di pemakaian pertama, kembali tumit saya lecet dan rasanya perih sekali.
Tidak senyaman sepatu beludru saya yang sudah tua, sepatu favorit saya. Saat mencoba pertama kali ketika mau membelinya, rasanya begitu pas di kaki saya. Pemakaian pertama, tidak membuat tumit saya memerah sedikitpun, pun saat-saat berikutnya.
Saya memakainya hamper setiap saat, saat saya bekerja, pesta atau acara-acara non formal sekalipun, dan saya bangga memakainya. Meskipun tidak terlalu bermerk ataupun mahal seperti sepatu saya yang pertama tadi.
Saya memakai sepatu beludru hitam saya sampai sol karetnya menipis, dan sampai menyebabkan bunyi nyaring ketika disetiap tumpuan langkah, saat logamnya bertumbukan dengan permukaan lantai atau parket. Bahkan satu saat saya pernah paksakan untuk memakainya disaat hujan, saya hamper terpeleset karena licin.
Sayang sekali untuk mempensiunkan sepatu itu untuk menemani saya, dan ketika mencoba mencari yang sama, sepatu tersebut sudah tidak ada lagi dipasaran…sedih sekali.
Seperti sepatu yang saya kisahkan tadi, memilih pasangan, kekasih, tidaklah bisa diukur dengan sekian standart tinggi untuk mendapatkannya. Tidak harus mahal, berkelas, terlihat sempurna dimata orang lain, karena tidak selalu yang terlihat sempurna dimata orang lain akan nyaman di hati kita.
Pernah mencoba mencintai sosok yang menurut sahabat-sahabat saya sempurna, Tapi nyatanya kenyamanan tidak selalu berbanding lurus dengan status social dan kelas pasangan, jadilah banyak hal yang tdak bisa sinkron di dalam diri saya.
Dan kemudian saya menemukan sosok yang seperti sepatu beludru saya itu, sayangnya sepatu itu tidak bisa saya miliki sepenuhnya, karena banyak orang yang menolak dan tidak setuju saya memiliki sepatu itu, sepertinya sepatu itu akan menjadi milik orang lain sebentar lagi, saya tidak bisa memaksa memiliki sepatu orang lain bukan?
Dan sekarang, saya sedang mencari sosok yang akan sangat pas dan nyaman di hati saya, tidak terlalu berlebih, seperti apapun kondisinya, saya rasa, saya tidak keberatan saat hatinya bisa saya miliki….setidaknya nyaman dan sempurna untuk saya, bukan parameter sempurna dimata orang lain…