Pengalengan, Kontrasme Hijaunya Alam dengan Bencana Mematikan….
Semilir angin pegunungan menyambut kedatangan kami di desa margamulya RW 03, kecamatan pengalengan yang terletak di ketinggian 2900 meter diatas permukaan laut, di siang terik, September 2009. Sementara gugusan perbukitan teh yang seperti permadani hijau terhampar dengan indahnya di depan mata, dan langit biru yang tanpa cela tersaji dengan sempurna di hadapan kami.
Siang itu, ceritanya saya ditugaskan atau lebih tepatnya mengajukan diri untuk mewakili IKA ITS Jakarta Raya bersama dengan team IKA ITS yang di komandoi oleh Cak Iwan kates untuk menyalurkan bantuan dari IKA ITS (Pengurus Pusat IKA ITS, IKA ITS Jawa Barat,dan IKA ITS Jakarta Raya) kepada korban gempa bumi Jawa tanggal 2 September 2009 lalu.
Berangkat selepas sahur dari Jakarta tidak juga mampu membuat kami sampai ke lokasi titik pemberangkatan di Kantor pusat PT. INTI (Industri telekomunikasi) Bandung di Jl. M. Toha No. 77 Bandung ini tepat waktu, kami berlima rombongan (saya, cak meong beserta istri yang sangat membantu team kami sebagai volunteer, cak aufa, ning heny, dan ning mira) dari Jakarta melewatkan seremonial pembukaan termasuk do’a bersama demi keselamatan kami dalam perjalanan sampai dengan kembali, dan , sesampai kami di titik pemberangkatan, kami bertemu dengan wakil ketua umum PP IKA ITS, Cak I Nyoman G. Wiryanata, ketua umum PW IKA ITS Jawa Barat, Cak Harjanto, Ketua Dept. Sosial PP IKA ITS, Cak Chafid Mahfud… Serta beberapa nama yang sebelumnya sudah saya kenal dengan baik, Cak iwan kates sebagai korlapnya, cak januar, dan cak ferry dzulkifli. Ketiganya adalah team pelaksana inti project penyerahan bantuan IKA ITS untuk korban bencana gempa ini. The three musketeernya project ini, demikian kami menyematkan julukan tersebut, karena mereka benar-benar mendedikasikan tenaga, pikiran dan waktunya untuk aksi sosial atas nama IKA ITS ini.
Dalam teknis penyerahan bantuan untuk korban gempa ini, IKA ITS dibantu oleh SIGAP (Siap dan Tanggap) yang merupakan LSM yang mengkhususkan diri membantu penyaluran segala bentuk bantuan untuk korban bencana alam. Efektifitas keberadaan LSM dalam membantu pekerjaan kami ini sangat terasa, team dari SIGAP yaitu Kang Don dan Kang Dedi yang beberapa hari sebelumnya langsung turun ke lapangan dan mendata hal-hal apa saja yang sangat urgent untuk di adakan dan dibutuhkan oleh korban bencana dan berapa banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga tidak ada hal atau barang yang sampai ke korban namun tidak bisa dimanfaatkan karena tidak tepat dan tidak efektifnya bentuk bantuan tersebut.
Dari data yang dikumpulkan oleh SIGAP, IKA ITS membelanjakan sejumlah dana yang terkumpul sebesar Rp. 33.700.000,– dengan pembelanjaan berupa :
- 635 Kg Beras
- 317 susu kaleng
- 317 sarden kaleng
- 200 selimut
- Obat-obatan senilai Rp. 4.164.200,-
Selain itu, IKA ITS mendapatkan titipan bantuan berupa 100 karpet yang berukuran 2 x 2 meter, dan sedang membuat 5 tenda berukuran besar. Pengumpulan dan pembelanjaannya dilakukan dalam waktu yang relative cepat, hanya dalam waktu 2 hari, kami meminta list barang kebutuhan yang kira-kira diperlukan di lokasi kejadian dari hasil survey SIGAP, meminta resep obat ke relawan dokter yang telah mendata obat dan perlengkapan yang dibutuhkan di lokasi kejadian, mencari dan membeli segala kebutuhan, membungkus paket beras, susu, dan sarden menjadi 317 paket, sampai dengan menatanya ke truck. Seluruh proses tersebut dilakukan hanya dalam waktu 2 hari. Rekan-rekan dari IKA ITS Jawa barat yang menyiapkan bantuannya bertahan hingga pukul 4 dini hari di sabtu paginya dimana keberangkatan kami diilakukan pada hari yang sama, 5 jam kemudian.
Pukul 09:30 tepat, rombongan kami yang terdiri dari kurang lebih 20 orang menuju ke lokasi pertama, yaitu RW 03 Desa Margamulya. Setelah kurang lebih 2 jam kami dalam perjalanan, kami disuguhkan pada sebuah pemandangan yang kontras sekali.
Semilir sejuk angin pegunungan wilayah pengalengan tercampur dengan debu dan teriknya matahari. Hijaunya pemandangan pegunungan perkebunan teh di sekeliling kontras ketika dipadukan dengan lokasi sekeliling tempat kami berdiri, sebuah desa yang dulunya asri ini telah menjadi reruntuhan, 90% kawasan desa ini hancur karena musibah gempa bumi berskala 7,3 skala richter yang mengguncangnya di akhir awal September lalu itu.
Di sepanjang jalan desa, yang kami temui bukan lagi tempat bernaung layak untuk manusia, karena semua rumah penduduk, masjid, SDN 01 dan SDN 03 musnah, runtuh, dan tidak berbentuk lagi. Penduduk tinggal di tenda-tenda yang terbuat dari terpal dan bahan seadanya untuk menanungi mereka dari hujan yang mulai sering turun di bulan September.
Khusus untuk SDN 01 dan 03 yang kami kunjungi, kondisi yang kami lihat sangat tragis. Gedung berlay out L itu runtuh hampir rata dengan tanah, bangku-bangku hancur tertimpa atap sekolah, masih ada beberapa buku paket yang tergeletak di atas meja siswa yang tertimbun sebagian reruntuhan tembok, hanya satu sisi tembok yang terpasang gambar – gambar pahlawan nasional yang masih bertahan dengan retakan besar di tengahnya.
Di awal Ramadhan, saat dimana umat muslim memulai ibadah puasa, saudara-daudara kita ini diuji dengan cobaan kehilangan tempat bernaung mereka selama belasan, bahkan puluhan tahun lalu. Dan saya tidak bisa membayangkan panasnya hawa di dalam tenda terpal saat matahari bersinar seterik siang ini di saat mereka sedang menahan lapar dan dahaga karena ibadah puasanya, cobaan yang tidak mudah untuk dilalui.
Tepat pukul 12 siang, kedatangan kami di sambut rekan dari pengurus RW setempat dan salah seorang guru SMA setempat sebagai relawan yang membantu teknis pelaksanaan pembagian bantuan bencana dengan mendaftar nama-nama kepala keluarga yang terdapat di RW 03 tersebut.
Sejumlah 317 Kepala Keluarga yang terdaftar (untuk 1135 jiwa), masing-masing mendapatkan satu kupon untuk ditukar dengan paket beras, susu kental manis dan sarden kalengan dari kami. Pembagian dilakukan per tahap, berdasarkan nomor urut per 100 nomor. Sesaat setelah menerima pengumuman melalui pengeras suara, satu demi satu masyarakat dengan wajah letihnya mendatangai truk kami, ibu dengan bayi dalam gendongannya, perempuan-perempuan paruh baya dengan anak mereka, para manula yang datang dengan cucu mereka, tak ketinggalan beberapa laki-laki yang datang dengan tangan dan tubuh berdebu karena sedang membersihkan ataupun berusaha membangun kembali rumah mereka meski hanya mendirikan atap rumah seadanya untuk berlindung saat hujan turun daripada terus bertahan hidup dalam tenda penampungan.
Satu demi satu paket kami bagikan, dengan menukar kupon di tangan mereka. Keterbatasan bahasa sunda saya dan rekan-rekan tidak menghalangi kami menangkap maksud segala ucapan mereka saat menerima paket yang terulur, cukup dari senyuman tulus dan tatapan mata sangat bersyukur dan berterima kasih dari mereka yang menunjukkan makna bahwa sedikit yang kami berikan sangat berarti bagi mereka, sampai saat salah seorang nenek memegang tangan saya dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa sunda, yang kemudian diartikan oleh cucunya, bahwa nenek tersebut berucap : “ hanya Allah yang mampu membalas kemuliaan hati kami”…. Kata-kata sederhana itu sempat membuat saya tidak mampu berucap, dan hanya mengangguk terharu.
Obat yang kami bawa dari Bandung langsung diambil oleh para relawan dokter yang langsung digunakan saat itu juga untuk proses ‘klinik bencana’ di lokasi kejadian. Dan antrian penduduk di tenda hijau berukuran 3 x 15 meter tersebutlah yang menunjukkan bahwa bencana ini membawa banyak penyakit, seperti ISPA, diare, demam, dll.
Sembari menunggu evaluasi seselesainya pembagian paket, kami menuju ke lokasi kedua yang berjarak kurang lebih 10 KM dari lokasi RW 03 Desa MargaMulya, iringan rombongan kami bergerak ke arah selatan menuju perbukitan teh ke arah Desa Margaluyu di RT 09. Dan sepanjang jalan, kami banyak melihat posko-posko bencana dari banyak private sector, organisasi massa, LSM, bahkan dari Partai Politik.
Sesampainya di perkebunan teh yang berhawa sejuk disiang hari ini, anggota team kami terlihat mulai kelelahan, mungkin dikarenakan semilir angin sejuk, perut keroncongan dan dahaga karena berlama-lama dibawah terik matahari saat pembagian paket tadi, membuat beberapa dari kami lemas dan sebelum pingsan, kami bergantian dan membiarkan beberapa rekan team kami tertidur di truk.
Satu dari rekan kami, langsung dikerumuni anak-anak kecil di lokasi ini, dan langsung diajak bercerita cukup lama, setelah tahu, ternyata yeni- didaulat untuk menjadi pendengar terhadap cerita – cerita ‘pengalaman buruk’ mereka saat bencana tersebut terjadi.
Di lokasi kedua, kondisi bangungan – bangunan tidak terlihat terlalu parah.atau mungkin dikarenakan sepanjang jalanan desa adalah perkebunan teh. Hanya tembok kebuh pengolahan tehnya yang longsor dan beberapa rumah dinas di sepanjang jalan yang rusak cukup parah.
Pembagian karpet dan selimut di lokasi ini cukup cepat dilakukan, karena begitu kami sampai di lokasi bencana, warga langsung mendekat ke kami dan sayangnya tidak antri setertib di lokasi pertama, mereka mengamati pembagian karpet dan selimut dari tangan kami dengan mata was-was, sambil berulang kali melihat ke dalam truk, takut seandainya karpet dan selimutnya habis sebelum nama mereka dipanggil.
Hampir 2 jam kami membagikan karpet dan selimut untuk warga, sampai tersisa kurang lebih sepuluh selimut, dan sisa selimutnya kami percayakan kepada perangkat masjid untuk dibagikan ke warga lain yang belum terpanggil atau terlupa saat di data.
Seselesainya kami di Desa Margaleunyi, kami menuju ke lokasi pertama kami untuk melihat pengobatan masyarakat yang dilakukan oleh team relawan dokter. Dan saat kami kembali, pengobatan sudah selesai menyisakan beberapa strip obat yang akan dialokasikan untuk hari pengobatan berikutnya.
Kami mengakhiri hari itu dengan evaluasi bersama dari team IKA ITS, SIGAP, RW dan perwakilan tokoh masyarakat setempat. Dari hasil evaluasi tersebut, kami mencoba menggali apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhan warga setempat, dan setelahnya kami ‘mencatat’ beberapa hal untuk ‘disampaikan’ ke IKA ITS dengan harapan tindak lanjut kemudian.
Karena sudah sepatutnya ketika kita membawa nama Ikatan Alumni sebuah Institut Teknologi terbesar di Indonesia Timur, tidak hanya memberikan bantuan sesaat dengan membawa spanduk besar dan kemudian pergi tanpa memberikan perubahan yang signifikan di lingkungan tersebut. Kita seharusnya bisa memberikan kesan yang kuat dan terpatri, tapi di luar itu semua, yang utama adalah bagaimana tangan kita terulur untuk mengangkat saudara – saudara kita yang tertimpa musibah dan kemudian bahu membahu bersama untuk membuat mereka bangkit dari keterpurukan akan trauma bencana dan merasa percaya diri untuk membuat hidupnya menjadi lebih baik lagi dengan kekuatan tangannya sendiri.