Pahit?????

Hari ini saya ingin menulis tentang satu rasa…rasa pahit…yang saya yakin hampir semua orang tidak menyukainya. Rasa pahit adalah sesuatu yang terasa oleh indra pengecap manusia. Rasa yang menggigit di pangkal lidah manusia dan tentu saja membuat hampir semua orang mengenyit ketika merasakannya.

Banyak orang memilih untuk menghindari rasa pahit ini di lidah mereka, dan dibandingkan dengan rasa yang mampu dikecaplidah manusia, manis di ujung lidah, asam dan asin di samping lidah. Pahit merupakan rasa getir yang di’anak tiri’ kan di pangkal lidah. Tempat paling terbelakang dari indra pengecap tersebut.

Baiklah, saya rasa saya terlalu banyak berputar-putra di definisi rasa pahit, sebenarnya..kenapa saya ingin menulis tentang rasa deskripsi yang ada di otak saya sekarang mengenai rasa ini bermula dari pertanyaan teman baru saya,kiki…yang suatu malam saat bertemu dalam sebuah acara jamuan malam bertanya ke saya, mengapa suka dengan Marlboro merah untuk rokok saya? Dan jawaban saya pada detik itu adalah sebuah gelengan yang membuah saya terus berpikir,sesungguhnya apa yang membuat saya kok hanya bisa menggelengkan kepala dengan ragu saya tambahkan kata’suka aja’…rasanya kok agak aneh saya hanya bilang suka aja tanpa sebuah alas an yang jelas.

Kembalilah saya merunut ke sejarah saya merokok, di tahun 1997, saat kelas 1 SMA, saya mulai mencoba merokok sampoerna a mild merah, karena pada waktu itu rokok itulah yang cukup masuk akal menurut penilaian saya untuk seorang perempuan…atau rokok yang merknya cukup melekat di benak saya karena profil mild nya..profil ringan,yaahh..namanya mencoba..yang ini aja dulu deh…
Dan kemudian setelah beberapa waktu mengkonsumsi rokok a mild merah, yang terasa manis di filter rokoknya, dengan kandugan nikotin dan tar yang cukup ringan, a mild merah sempat saya daulat menjadi kawan baik selama sekitar 8 tahun, sampai saya lulus kuliah. Saya masih sangat nyaman mengkonsumsinya, apalagi jika ditambahkan dengan segelas kopi tubruk yang pahit..rasanya sangat mensugesti saya bahwa saya tengah disuguhkan sebuah keindahan rasa dunia.

Agak berlebihan memang, tapi untuk ukuran anak kost pada saat itu, yang juga tidak terlalu suka membelanjakan uang untuk cemilan ala perempuan seperti coklat, keripik dan kawan2nya,bagi saya mendapatkan sebatang rokok a mild dan segelas kopi rasanya bisa sangat menghibur.
Dan kemudian, selepas lulus kuliah, saya terbiasa ‘menghadapi’ perempuan-perempuan yang merokok di sekeliling saya, yang awalnya merupakan hal yang cukup langka mengingat di pemalang ataupun di Surabaya pada saat itu tidak lazim untuk seorang perempuan untuk merokok di muka public,setidaknya menurut anggapan saya. Namun,keterbukaan ibukota dalam ‘menerima perempuan yang menghisap rokok di tempat umum membuat saya seolah diberikan surat ijin mengkonsumsinya dengan legal.
Dan ternyata surat ijin tersebut berbanding dengan keuangan saya yang sayangnya tidak selalu mengijinkan saya merokok di setiap kesempatan saya menginginkannya. Jadilah, saya orang yang ‘merokok dapat’…..hehehehe…dapat minta temen, dapat karena menyediakan korek apinya saja,atau dapat karena sok cuek ambil aja dari bungkus temen nongkrong.

Saya punya seorang rekan bekerja perempuan yang sering sekali menghabiskan waktu istirahat berdua atau nyolong-nyolong waktu untuk merokok saat kerja atau selepaskam pulang kantor, kebetulan rokoknya Marlboro merah. Pertama saya menghisapnya, membuat ingin muntah…pahit, getir, pokoknya nggak enak lah…’rokok kok kayak gini???’ demikian saya berujar pada saat itu, karena terpaksa, saya gak sada sudah habiskan berbatang-batang…dan setelah saya paksakan, beberapa waktu, saya mulai bisa menikmati rasa pahitnya…atau justru rasa pahitnya itu yang membuat saya menjadi pengkhianat dengan beralih ke marlboro merah sampai dengan sekarang.

Secara kebetulan, saya mulai menganalisa diri sendiri, bahwa saya termasuk penikmat rasa pahit, rokok pahit, kopi, jamu, sampai dengan pare…semua merupakan pahit yang menurut saya ketika kita mencoba bersabahat dan membiasakan diri untuk mengkonsumsinya, akan terasa nikmat saat merasakan dan menyesapnya.

Dan kemudian, khas saya yang suka kebablasan berefleksi, berbicara tentang hal yang lebih filosofis, kehidupan….

Saya merasa filosofinya juga tidak jauh dari rasa pahit tadi.. saya haqqul yakkin, tidak ada orang yang mau menjalani kehidupan pahit, semuanya pasti menginginkan kehidupan yang manis…asam dan asinpun tidak, apalagi pahit. Tapi juga hampir semua orang pernah menjalani kehidupan pahit….seperti kata anonym ‘pahit getirnya kehidupan’ yang tergambar untuk hidup yang tidak berjalan mulus dan selalu indah seperti harapan orang. Pun saya.

Masalah hidup dan kehidupan manusia, bisa kita lihat dimana-mana jika berbicara tentang kepahitan hidup. Ibu yang menelantarkan 3 anaknya selama 5 hari sendirian karena alas an tidak punya uang untuk memberi makan anaknya, bahkan orang tua yang membunuh anaknya dan mambunuh diri setelahnya karena tidak mampu menanggung beban hidup yang berta, bentuk kepahitan yang cukup menonjok ulu hati saat kita dipaksa untuk menjadi saksi hidup atas semuanya….seolah tidak ada lagi kata manis dan enaknya kehidupan..kenyataan – kenyataan pahit yang tersaji di depan kita mau tidak mau membuat kita mendefinisikan bahwa yang dikatakan hidup adalah perjuangan itu equal dengan hidup adalah kepahitan..berjuang melepaskan diri dari hidup yang pahit..setidaknya itu yang saya simpulkan.

Namun, seperti yang pernah dipesankan ayah saya untuk menghibur saya yang pada saat itu sedang cukup berputus asa, beliau berujar…’susah itu seninya hidup’, bahwa mensiasati ‘pahit’nya hidup adalah dengan menikmatinya seperti menikmati sebuah seni… saya jadi belajar banyak hal dari kata-kata tersebut. Setiap ‘kepahitan’ dalam saya menjalani hidup sampai dengan 28 tahun ini, saya coba nikmati satu persatu sebagai sebuah seni, seni menghadapi hidup, seni menyelesaikan masalah, dan seni bertahan menjadi manusia yang waras. Yang ternyata tidak juga mudah, namun setelah dijalani dengan penuh kesadaran dan penghayatan, saya bisa menyesapnya sebagai sebuah kenikmatan yang sangat ………..nyata.

Sampai kemudian saya rasa tidaklah berlebihan ketika saya berani mengatakan bahwa saya sanggup menikmati manisnya hidup dari kepahitan-kepahitan yang tersaji lewat hidup saya sendiri ataupun melalui segala sesuatu yang tersaji di depan mata saya. Apapun bentuknya…ada saat dimana ketika kita bisa bertahan dan menikmatinya, kita akan merasakan habwa tidak selamanya pahit itu harus dihindarkan, banyak sekali ‘pahit – pahit’ yang harus kita konsumsi atau kita jalani untuk merasakan ‘manis- manis’ yang tidak semua orang beruntung mendapatkannya dengan cara itu.
Sehingga, untuk kiki, sekarang saya bisa menjawab pertanyaannya bahwa saya memilih merokok Marlboro merah karena saya sudah sok menemukan filosofi dari hal tersebut bahwa saya suka rasa pahitnya, karena setelah kita mampu bersahabat dengan rasa pahit itu, kita bisa tetap bertahan menjadi orang yang WARAS!!!!!!

…maaf cak puji, saya pinjam kata2nya….hehehehehehe….

One Response to “Pahit?????”

  1. Wah, cewek ngrokok?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.