Erlina Yeviani

 

 

a1 

 

 

Tulisan ini saya buat dalam kondisi marah…dan meskipun kemarahan saya sudah sempat mereda semalam, rasanya belumlah benar-benar akan hilang ketika saya belum mengungkapkannya pada tulisan ini…

 

 

Kemarahan saya ini akibat pertengkaran saya semalam dengan rekan kost saya…dan dalam tulisan ini saya tampilkan profilnya dengan sangat lengkap, versi saya..;p

 

 

Namanya ERLINA YEVIANI..temen2 kost memanggilnya Evi, seorang perempuan asal Purwokerto berusia (kalo tidak salah 31 tahun, dengan perhitungan 2 tahun atau 3 tahun yang lalu pas kami masih sering bertukar sapa,  dia sempat curhat bahwa usianya sudah 28 tahun dan kegundahannya tidak segera menikah ;p ).

 

Berkulit putih bersih, tinggi semampai, berambut pendek sebahu, berkacamata, dan …mmmm…cukup montok..hahahahahaha…

Sampai sekarang saya sering bertanya – tanya tentang sesuatu yang aneh pada postur tubuhnya…yaitu patahan antara pinggang dan pantat atasnya terlihat sangat kentara, atau kalo orang jawa menyebut, dengkeannya itu kentara sekali, sehingga pinggangnya seolah melesak masuk dan seolah disodorkan dengan tiba-tiba, undakan bentuk pantatnya muncul :D ..saya bingung mengambarkannya…tapi bagi beberapa laki-laki bisa jadi itu sexy kok ;p hahahahaha

 

Jika dilihat di keramaian, dia tidak terlihat cukup menarik perhatian..yaahh..karena cara berbusana dan tampilannya umum dan banyak ditemui dalam tata busana perempuan yang bekerja di Bank. Mungkin, jika di matke (diamat2i) lebih lanjut, jika ada mengenalnya pertama kali, kesan pertama adalah bersih..huehehehe..ditambah matanya yang sayu dan redup yang sering dikedip-kedipkan, menambah kesan meneduhkan..hahahahahahaha

 

Dia lulusan universitas Jend. Sudirman, Purwokerto dari Fakultas Pertanian, angkatannya..maaf saya lupa..yaa..bisa kan dihitung sendiri untuk usia 31 tahun kira0kira angkatan berapa. Mengawali karir perbankannya di Bank BCA outsource sebagai teller dan kemudian ikut MDPnya Bank Mega…setelah keluh kesah yang kurang lebih 3 tahun harus bertahan di Bank selulus MDP Bank Mega, atau jika keluar maka harus membayar beban penalty, semester ketiga tahun ini berpindah karir di Bank NISP, entah sebagai apa..saya menduga juiga tidak jauh dari Marketing Officer.

 

Dulu, sempat mengenalkan seorang pria ke kami, adik dan rekan kostnya sebagai ‘cowok yang masih PDKT’ namanya yoga (kakak dari rekan kerjanya yang coba di kenalkan oleh rekan kerjanya ke dia), dan entah kenapa, si Mas Yoga ini akhirnya menikah dengan salah satu dari kami yang dikenalkan olehnya..sekarang Mas Yoga sudah berputri 1 dari Rekan Kost saya dan sangat bahagia dengan rumah tangganya. Meskipun sebelum pernikahan Mas Yoga dengan Rekan Kost kami ini, mempelai perempuan mengalami berbagai kasus ‘pembalasan sakit hati karena cowok yang PDKT lebih suka sama adik kostnya’ oleh si Evi ini, dari yang tidak pernah disapa, sampai dipersulit tentang interaksi sekecil apapun dengan tetangga kostnya.

Kemudian, setelah insiden Mas Yoga, Si Evi ini mengenalkan kami ke seorang laki-laki lagi yang diakuinya sebagai cowoknya..bukan mengenalkan tepatnya, kami (yang lebih muda dari dia) mendengar tentang cowok yang beberapa kali bertandang ke kamar kostnya itu sebagai cowoknya, karena mungkin dia punya trauma mengenalkan laki-laki ke adik kostnya lagi :D , tapi hubungan dengan laki-laki itu sepertinya tidak cukup mulus, karena sang laki-laki sekarang tidak pernah kelihatan batang hidungnya di kost2an…dan seringkali pula rekan kost yang lain bercerita kalo si Evi ini sangat patah hati dan sering menangis..

 

Rasanya agak tragis ya kisahnya, setidaknya dibanding rekan kost saya yang lain, yang sudah mendahuluinya menikah, istilahnya..ada cowok yang PDKT, disuka, Pacaran dan kemudian menikah..yang menurut persepsi saya, si cowoknya pasti yakin dong dengan semua kapasitas, kapabilitas, dan kepribadian rekan kost saya sehingga yakin untuk menikahinya..tidak kabur teruuuss…:D

 

Dulu, saya tidak pernah bermasalah secara personal sama dia, karena prinsip saya..saya orang yang tidak mau tahu urusan orang lain, tapi ketika orang mau tahu urusan saya, berarti dia cari masalah dengan saya..

 

Beberapa rekan kost saya sering curhat, jika mereka bermasalah dengan si evi ini, pertama rekan kost saya yg namanya Rina Hudaya(sudah menikah dan berputra 1), yang mengeluhkan sikap evi yang sangat protektif terhadap barang-barang miliknya yang digunakan bersama-sama..yaitu ember.

 

Evi awalnya kost berdua dengan kakaknya dalam 1 kamar, kemudian setelah ada 1 org dari kami menikah, dia menyewa kamar sendirian. Nah, selayaknya penghuni kost2an yang sudah lama (seperti saya yang sudah jadi anak kost 11 tahun), kami sangat terbiasa saling meminjam barang perabotan yang harganya juga tidak sampai harus puasa 1 hari untuk membelinya, seperti ember, piring, kompor, sendok, beras, telur, mie instant,  sapu, hanger, wajan, dll. Kami menganggap namanya hidup di kost, apa susahnya sih saling berbagi, apalagi sekedar pinjam meminjam perabotan, asal bukan underwear saja. Hahahahaha

Nah, pada saat Rina menggunakan ember yang setahu Rina adalah milik mereka berdua (Evi dan kakaknya) dengan meminta ijin kepada kakaknya-dan juga sudah diijinkan, untuk menampung air untuk mengepel, Evi teriak dan bilang..” Kok kamu gak minta ijin sama aku juga sih, itu kan juga emberku!!!” Wuikkkk…

 

Terus, dia menerapkan peraturan, siapapun yang masuk ke kamarnya, harus menggosok kakinya di kain pel yang dibasahi sampai benar-benar bersih..kayak dia nggak percaya aja ya kalo rekan kostnya juga orang yang bersih-bersih..

 

Lagi, dia menerapkan peraturan (bukan meminta tolong atau mengingatkan rekannya) untuk semua yang melewati pintu utama kost harus menguncinya, tidak hanya menutup pintunya, meskipun kami hanya sekedar mengambil cucian kering yang jarak dari pintu utama hanya sekitar 2 meteran. Dan kami semua, penghuni kost2an adalah manusia-manusia yang terdidik dan saya jamin semua bisa membaca tulisan dengan sangat jelas.

Daan, seandainya ada rekan kost yang semodel saya, yang menganggap bahwa amatlah tidak penting menjadi seorang yang paranoid dengan selalu memenjarakan diri dengan mengunci pintu, pasti akan timbul masalah, yang sayangnya, meskipun terkadang saya pancing, tidak pernah berakhir dengan omelan dia, tapi begitu teman saya yang lain yang tidak siap ’bertukar wacana dengan tone tinggi’ yang melakukannya, dia beraksi..hehehe

Saya memang tidak pernah punya masalah dengan si Evi ini, tapi saya sangat terganggu dengan aturan-aturan yang seenaknya dia terapkan seolah dirinya Ibu kost, sementara pemilik kost sesungguhnya merupakan orang-orang lowprofile yang sudah sangat melek matanya bahwa kami semua adalah perempuan-perempuan dewasa yang sudah bisa bertanggung jawab dengan ’milik’ kami masing-masing..fyiuuhhh..melelahkan..

 

Saya termasuk satu-satunya yang mengambil posisi berhadap-hadapan, karena saya tidak suka pola otoritas dia yang seolah menguasai kost dan membuat beberapa dari kami kesal tanpa bisa memprotes..

Dan posisi berhadap-hadapan yang saya ambil ini sering mengkhawatirkan penghuni kost yang lain, karena saya juga tipe orang yang blak-blakan dan siap setiap saat untuk beradu wacana dengan evi..ya elah…evi doang..hahahahaha

 

Masalah pertama Evi dengan saya personal dimulai sekitar 1 tahun yang lalu, kisahnya bermula dari insiden pencurian gaji 1 bulan rekan kost saya oleh cowok yang masih PDKT sama dia. Dengan dalih menyuruh rekan saya mandi dulu sebelum berangkat ke kampung halaman untuk acara perkenalan calon menantu, dia menggondol tas back pack saya yang dipinjam untuk packing baju dan gaji rekan saya 1 bulan..tragis..

Konsekuensi tersebut sudah diterima dengan sangat sadar dan lapang dada oleh rekan saya ini, tapi imbas dari insiden itu adalah evi, murni, kakaknya, secara sepihak dan tanpa didiskusikan dengan rekannya satu kost, menghadap pemilik kost dan meminta pemilik kost memasang peringatan agar seluruh penghuni kost dilarang membawa tamu laki-laki ke kamarnya, siapapun..dengan anggapan bahwa tamu laki-laki akan berkemungkinan besar mengulangi insiden penggondolan gaji seperti kmrn.

 

Saya yang paling meradang dalam merespon peraturan yang dibuat sepihak itu, ketidakterimaan saya ajukan ke pemilik kost, dengan alasan bahwa kenapa hanya tamu laki-laki, bahaya kan tidak mengenal gender, perempuan jika punya maksud buruk juga bisa saja, dan keberatan yang saya ungkapkan dengan sangat keras ke bapak kost adalah karena sebagian rekan saya yang berkunjung adalah laki-laki, keluarga, sahabat, dan lingkup pergaulan saya sebagian besar diisi oleh makhluk Mars tersebut.

 

Ya, tentu saja saya keberatan, lay out kost kami sangat tidak memungkinkan untuk menerima tamu di luar kamar, jarak pintu kamar saya dengan pintu kamar depan saya hanyalah 1 meter, yang  menjadi lebih sempit dengan tambahan rak sepatu saya dan rak sepatu rekan depan kamar saya, sementara tidak ada ruang tamu di kost saya, hanya 1 kursi yang memuat 2 orang dan meja kecil disamping kuris tersebut.

Tentu saja, si evi mengajukan alasan itu, karena kursi tersebut terletak di depan kamarnya, dekat pintu masuk, untuk mengambil minum, menonton TV dr kursi terebut sangat memungkinkan, sementara kamar lain..tidak dia pertimbangkan.

 

Akhirnya dengan negosiasi dan kecaman keras kepada pemilik kost, kami mendapatkan kelonggaran bahwa diperbolehkan menerima tamu laki-laki di kost, jika pintu dan jendela di buka dan jika ada keperluan yang penting yang mengharuskan berakses ke kamar, seperti sholat, menggunakan komputer, dll.

 

Sampailah suatu hari, dimana saya menerima salah satu tamu laki-laki, yang sudah seperti kakak saya sendiri, sahabat saya terdekat, terbaik..dia membantu saya mempersiapkan presentasi terpenting sepanjang karir saya, dengan browsing-browsing bahan di warnet dan kemudian di save di flasdisknya.

 

Mau tidak mau, saya harus replace dari falshdisknya ke laptop saya, yang mau nggak mau juga saya harus menyalakan laptop dan itu di kamar saya.

Saat saya masuk ke kost, dan sahabat saya tertinggal di belakang, saya tidak tahu tepatnya yang dikomunikasikan si evi ini ke sahabat saya, tapi saya dengar mereka bercakap. Dan ketika sahabat saya sampai di kamar, kami sedang berkutat dengan laltop dan data, si evi dengan semangat membabi buta mendatangi kamar saya dengan mimik muka yang menahan marah yang teramat sangat seolah haknya dilanggar, langsung menuding sahabat saya dan bilang …..

 

”Mas, Bisa baca kan tulisan di depan itu, laki-laki tidak boleh masuk kamar”

 

Sahabat saya menanggapi dengan tenang

 

”Saya kan bilang sebentar mbak, saya pindahkan data di flashdisk saya ke laptop nelly dulu”

 

Saya yang meradang..saya balik tunjuk evi dengan keras saya bilang..

 

”heh..gw udh bilang sama bapak kost, diperbolehkan menerima tamu laki-laki di kamar asal pintu dan jendela di buka”

 

Sejak saat itu, dimulailah posisi berhadap-hadapan yang sesungguhnya antara dia dengan saya…hanya karena menghormati rekan kost saja, saya selalu menahan untuk melaukan tindakan premanisme ke dia..lagian..selisih usia 5 tahun seolah justru saya yang harus selalu memposisikan sebagai sosok yang lebih dewasa dan harus selalu menahan diri.

seandainya dia adalah sosok yang MERASA bahwa dirinya lulusan sebuah SEKOLAH…pastilah dia akan berpikir bagaimana menyelesaikan permasalahan tersebut dengan elegan, jikalaupun akan mempertanyakan atau menegur saya, bisalah lewat protes ke bpk kost, sama seperti saya protes ke bpk kost masalah peraturan yang dibuat sepihak ini. atau alangkah lebih sopannya lagi, jika dia memanggil saya dan menanyakan atau menegur dengan lembut tentang hal kelakuan saya yang dianggap salah olehnya..bukan langsung menuding dan membentak tamu saya…tamu saya sodara-sodara..preman sekali gayanya..bahkan beberapa preman yang saya kenal betul lebih sopan daripada dia..perempuan yang terlihat lembut..dan jawa..aduuhhh mengotori persepsi perempuan jawa aja…. 

 

Sampai kejadian semalam yang membuat saya sangat marah..hanya karena sebuah piring dan sendok.

 

Sebagaimana seperti tergambarkan sebelumnya, kami, sesama anak kost sangat toleran terhadap pola pinjam meminjam perabotan kami, pun saya, yang sangat membebaskan adik kost ataupun rekan kost untuk ikut meminjam peralatan perabotan saya, termasuk, piring, gelas, sendok dan sejenisnya…

 

Saat natal kemarin, setelah masak nasi goreng, karena saya punya piring warna merah yang diberikan oleh tukang pel di kost kami karena dia pecahkan piring saya sebelumnya, saya melihat itu di rak piring dekat kamar mandi, dimana biasanya adik kost saya manruh barang yang selesai dipinjam setalh di cuci.

 

Karena saya tidak pernah ’notice’ piringnya seperti apa dan hampir semua piring terlihat sama dan mirip, saya ambil salah satu yang menurut saya, terlihat seperti piring saya, dengan asumsi, seandainyapun saya salah, setidaknya saya pinjam piring tersebut untuk makan. Dan sendok juga saya ambil sembarang yang ada disitu.

 

Tiba-tiba saat malam saya sedang berkutat dengan diktat dan buku-buku yang cukup menyebalkan, pintu kamar saya di gedor..saya kira adik kost saya yang biasanya punya pola serupa dan dia sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Setelah saya teriakin yaa…tiba-tiba pintu kamar saya di buka paksa (di gebrak) sambil dia menembakkan serentetan kata tidak ikhlas seolah saya baru mengambil calon suaminya…

 

” heh, nelly..besok2 jangan lagi kamu pake piring saya ya..ini piring dan sendok saya, jangan suka pake barang orang lain seenaknya”

 

Saya takjub, shock dan geli….shock karena ternyata yang datang ke kamar saya adalah seorang ’evil’ dan bukan evi…kedua takjub, sedemikian parno dan protektifnya dia terhadap sebuah piring dan sendok yang saya bisa belikan 10 lusin lebih pada saat itu juga, sekaligus geli dan heran..kok ada manusia yang berpikir secupet ini..sarjana pula, karyawan bank NISP pula..hahahahahahaha….

 

Saya lawan kebali kata-kata dia..”eh enak aja, itu piring gw, yang dicucu sama tiwuk ditaroh disitu..yang jelas dong loe….”

 

Dia jawab ” ini piring ku, tak taruh disini, udah dicuci 3 kali hari ini (mana saya tahu ;p)”

 

Genap sudah batas kesabaran saya menghadapi dia…sama seperti keluhan satu rekan kost yang pernah dipinjami uang untuk bertahan hidup, dengan hanya 300ribu rupiah dan statusnya dipinjami. Ketika rekan saya ini ’terlihat’ lebih akrab dengan penghuni yang lain dan terlihat sedikit jauh dengan dia..dia tidak terima dan ’ bahasa’ yang dia ucapkan saat itu adalah ” ……..(bla..bla..bla)…padahal dulu pas kamu susah kan kamu juga aku bantu, kok sekarang kamu malah gitu siihh!!”..oh My GOD…..300rb, meminjamkan, dan dengan sangat entengnya dia beberkan seolah jasa yang dia berikan adalah menyelamatkan jutaan nyawa kelaparan…hahahahahahaahha

 

Bisa jadi tulisan ini adalah bentuk kekesalan saya terhadap seorang ERLINA YEVIANI alias Evi…dan bisa pula ini adalah sebuah bentuk propaganda kepada setiap pihak yang terhubung dengan evi untuk lebih menjelaskan bahwa paket lengkap seorang ERLINA YEVIANI adalah sebagaimana adanya..dimana saya, sebagai orang yang hidup berdampingan sehari-hari sebagai rekan kostnya, merasa sangat terganggu dengan pola pikir dan perilaku dia yang seperti anak TK.

 

Saya berdo’a dengan sepenuh hati saya, mudah-mudahan SECEPATNYA, ada laki-laki yang mau dan bersedia menikahi dia dalam bentuk satu paket tadi…menerima fisik dan jiwanya sepenuh hati..dan tutup mata terhadap hal-hal yang mungkin telah membuat sekian laki-laki berlari menjauh darinya serta lebih memilih perempuan lain..

 

Sungguh evi, aku berdo’a untukmu..meskipun sebenarnya setaip sel dalam tubuhku ingin berteriak ribuan makian untukmu, tapi aku berdo’a dari tengah lubuk hatiku untuk kedekatan jodohmu segera, sehingga kau bisa menerapkan pola hidup dan pikiranmu ke Rumahmu sendiri, bukan kost2an yang semua penghuninya punya hak dan kewajiban yang sama karena bayarnya juga sama ;p…

 

Kenapa dari tengah hati..karena jauh di lubuk hati yang paling dalam, aku ikut prihatin dengan siapapun yang berjodoh denganmu, bahwa dia laki-laki yang ’tidak terlalu jeli dan pintar untuk menjadikanmu partner hidup yang akan mengurungnya di dalam neraka…hehehehehehe….PISS…piringnya dijaga baik-baik ya..jangan sampe pecah..hahahahahaha

 

 

 

 

 

 

 

3 Responses to “Erlina Yeviani”

  1. Nelly (various source) Says:

    Frisya Gitalia at 9:33pm December 26
    well, quite shocking.
    but i believe it’s true.
    to evi…you know the consequences waking up a sleeping panther ;-P

    Harly Rovaldy at 4:10pm December 27
    huahahahaha…. sabar ya mbak… paling ga’, dengan adnya mahluk minus seperti evil eh evi itu ( ;P ) maka akan ad mahluk plus seperti mbak & rekan2 kost lainnya… Pisss Pisss….^_^..

    Gunawan Wijaya at 7:59am December 28
    hahahahahahaha ada yah makhlu ajaib ini dan tolol yang tidka bisa berkaca terhadap dirinya sendiri…
    sayang ni semangka aka mbok mban ini ujudnya laki2 dan gak kost di tempamu nel…kalau gak sudah terjadi perang bharatayudha tuh sama si eve ini….

    perempuan kok yah kelakuannya begitu..

    hajar aja nel…

    Ira Anastasia at 8:58pm December 28
    wouw…
    wondering deh
    dia baca tulisan ini ga yah?
    hihihihihi…

    Gunawan Wijaya at 9:54pm December 28
    ya kalau dia punya akun muka buku ini dan jadi kontaknya kalau gak yah kelaut aje

    Mardi Brilian at 7:50pm December 29
    santap wae wiss…… hajarrrr :P

  2. Rino Sudibyo Says:

    Never argue with an idiot, they will take you down & bring you to their level & kill you with their experience

  3. HIHIH, APA KABARE..WADUH BINGUNG MEH COMENT, YO WES COMENT DISNI AJA YAH.OK SUKSES SLALU WES LAH :)

Leave a Reply