Sahabatku Menghamba Materialisme?? :(

materialisme

 

 

Tulisan ini saya buat dari hasil perbincangan atau istilah kerennya diskusi ringan pas makan siang dengan tetangga kubikel saya tersayang, Mbak Nefti J

 

Berawal dari cerita ngalor-ngidul tentang sahabat-sahabat kami masing-masing, sampai kepada bahasan tentang gaya hidup dari sahabat-sahabat kami yang berubah drastis setelah sekian lama menginjakkan kaki di Ibukota ini.

 

Hampir 70% sahabat lama yang saya temui kembali disini, kecenderungan gaya hidupnya berubah, dan lagi, dengan berjejalnya fasilitas konsumerisme yang menjamur di Ibukota, rata-rata dari semuanya berpikir bahwa parameter kesuksesan mereka adalah Materi..

 

Menurut teman gossip saya dikantor ini..hehehehe…bisa jadi karena keterbatasan lingkungan bergaul sahabat-sahabat saya dan dia yang seprti itu, menjadikan mereka seperti katak dalam tempurung, yang membuat mata mereka terbuka hanya sebatas dunia tempurung dia atau perubahan tersebut karena lingkungannya menjadikannya sosok yang masih mencari eksisitensi dirinya dengan berapa banyak materi atau jam terbang yang dia punya…

 

Ada benarnya juga, dana kami berdua selalu menyebut mereka-meraka ini dengan julukan OKB, alias Orang Kaya Baru atau Orang Keren Baru…hahahahaha

 

Si Orang Kaya Baru atau Orang Keren Baru ini, setelah dihitung-hitung, dan diamati berjumlah relative banyak lho disekitar lingkungan saya…ada yang terang-terangan bercerita tentang apa yang dia punya sekarang, bagaimana portfolio dia sekarang sampai dengan kemana saja aktivitasnya saat ini….kadang saya suka geleng-geleng kepala sendiri jika mengingat mereka satu persatu..

 

Contoh pertama adalah salah seorang rekan, yang setahu saya sih dia berasal dari keluarga yang cukup berada (menurut cerita dia), Ibunya berpengaruh (salah satu CEO perusahaan besar) pun dengan seluruh adiknya..yg masing-masing punya portfolio yang jika saya katakana disini, akan sangat membuat mata terbelalak..:)

Setelah masuk ke lingkungan kerja yang gaji sekarang sekian kali lipat dari gaji terdahulu..(gaji sekarang hampir menyetuh angka 40 juta perbulan), saya melihat dia setiap hari dengan hal yang berbeda…

Hari ini bawa accer notebook yang mungil, besoknya bawa mac box yang katanya harganya 11 jutaan…max boxnya dijual -10% dr harga beli, dan esok harinya beli yang sama dengan type sama dengan harga yg sepertinya juga sama…

 

Esok harinya ‘menunjukkan’ kepada kami semua, sepatunya yang baru..yang jika kita Tanya jawabnya dengan sedikit ‘merendah’..”aaahhh..murah kok, 400rb dapet dua”…

 

Esoknya, bilang, baru ganti jam tangan..beli di Amerika katanya..harganya..yaaahhh..gak sampai 5 juta kok…

 

Sampai saat external harddisknya rusak, dan ternyata dia baru tahu bahwa saya punya type yang sama dan serupa..seolah dia tidak percaya..”bagaimana mungkin loe punya”..hehehehe..ini feeling aja sih, mengatikan tatapan matanya ke saya..hahahaha

 

Contoh Kedua..ini temennya temen saya…dan ini salah satu dari dua contoh yang akan saya berikan untuk pola OKB yang implisit..

 

Menurut temen saya, setiap kali sahabatnya ini diajak ketemuan, awalnya ok, terus kemudian dia cancel mendadak, dan tanpa ditanya jawabannya adalah : “addduuuhhh bow, sorry bgt yak, gw gak bisa dateng sekarang…gw masih di kedutaan nih, ngurus visa sekolah gw di amrik, gw kan mau berangkat bentar lagi…next time aja yaaa….(“tanpa ditanya”) :D

 

Contoh Ketiga adalah sahabat perempuan saya, yang dulu saya kenal bukanlah orang yang seperti itu, sama sekali bukan..dan sekarang dia berubah menjadi seperti itu entah karena apa..

Dia putri seorang yang berada (ini setahu saya, bukan hanya dari cerita dia), dank arena orang tuanya cukup berada, memang dia bekerja hanya untuk dirinya sendiri..yang artinya uang gaji untuk diri sendiri…

 

Dulu, saat kami masih sama-sama dibangku kuliah, saat itu ponsel belumlah setenar sekarang..karena masih merupakan barang yang mewah dan mahal, apalagi untuk orang setingkat saya, yang uang saku perbulan plus kost sekitar Rp. 300.000,- (tahun 1999 – 2004)

 

Dia merupakan sosok yang dikomunitas kami pertama kali punya ponsel, dan bagus..saya lupa type berapa…yg pasti Nokia..- sekali lagi yang jika dibandingkan dengan saya yang ponsel pertama adalah hasil pinjaman dari seorang sahabat yg punya 2 ponsel, karena saya ketua panitia sebuah event besar- merupakan benda yang sangat keren..dimata saya, pada saat itu..

 

Saat kami memuji bercampur kagum dan mungkin lebih banyak iri :D dia hanya menjawab..apaan sih, orang ini dibeliin Ibu aku, aku aja awalnya gak mau, karena belum terlalu perlu..tapi dibeliin, kan yo nggak enak tho kalo ditolak..kata ibu aku biar mudah di kontak kalo lagi nggak di kost..saya ingat betul bahasa dia pada saat itu..lebih kagum dunks…J

 

Dan seribu satu kenangan lain yang saya sangat ingat sebagai bentuk ‘humbel’nya seorang perempuan kaya…

 

Saat ini, sosok yang saya kenal dengan sangat baik waktu itu sudah menghilang..saya masih selalu merenung, kenapa dia menjadi seperti itu, apa karena lingkungannya, pacarnya, atau apa??? Kalo karena keluarganya, saya yakin tidak…dia berubah, hanya setelah di Jakarta.

 

 

Tanda pertama yang saya tangkap (bisa jadi memang baru saat itu dia berubah)…adalah saat dia memiliki kendaraan pribadi..

 

Bahasa yang dia kemukakan setahun lalu adalah saat kita mau bersama-sama berkumpul dengan komunitas tempat kami berkumpul dulu..bahasanya sederhana….”kamu datang sm sapa mbak, apa bareng aku aja..aku jemput ke kostmu.kalo nyetir sendirian kan gak enak”

 

Ada lagi pola dia yang saya juga sampai sekarang tidak habis pikir…

Kami terbiasa sama-sama online via chatroom, dan biasanya sepanjang tidak ada hal yg urgent..jarang sekali sapa2an..atau bercanda..karena terkadang terlalu sibuk untuk bercanda di ruang maya tersebut..

 

Satu saat secara tiba-tiba dia message saya dan bilang..”mbak, kapan halal bi halalnya?”

Saya jawab agak lama, setelah menyelesaikan membalas beebrapa email “ ya udah..publishen disik nang milist, tar cekno aku nanggepin ae. (publish di milist dulu aja, nanti biar aku tanggapin)”

Kemudian dia menyahuti lagi…”ok, tp ojok minggu iki yooo…(tapi jangan minggu ini yaaa…), soale aku sek nang Bali…(soalnya aku masih di Bali)”…saya hanya tersenyum dengan bahasa dia…

 

Saat lain adalah kemarin, sore hari..pas lagi ngantuk-ngantuknya dan suntuk dengan deadline membuat proposal…tiba-tiba dia telpon ke ponsel saya…dan terjadilah pembicaraan sbb :

 

“Hallo..” (saya)

 

“Mbak…, aku iki goblok!!, sampeyan ngerti nggak money changer sing buka sampek bengi” (rata-rata money changer buka sampai jam 10 malam setahu saya) (teman saya)

 

“lah, kenopo?”

 

“aku ki kudu budhal sesuk, sampe saiki loh aku gurung nuker Dolar”

 

“ oohh, nang rawamangun onok, lek aku biasane nang kono..nang daerah fotocopyan iku lho, lek gak kelapa gading kan uakeh”

“bukanne biasane oleh teko kantor, aku sih biasane langsung dikei uang saku dalam dolar”

 

“iyo, sakjane yo ngono, tapi kabeh iki mendadak..dadi gak isok pengajuan cepet..”

 

“oohh..ngono, nang Mall kelapa gading yo onok kok, cedak ATM center”

 

“ohh..iyo..yo wes aku tak nang kono ae…”

 

Saat itu sebenernya saya akan berkomentar, bahwa untuk saat-saat daruratpun, airport dinegara tujuan selalu ada money changer, dan biasanya tempatnya bersebelahan dengan loket pembayaran viskal..tapi sudahlah…kasian dia…

 

dan sekecappun saya juga tidak menanyakan dia akan berangkat ke negara mana…??karena lupa, dana kayaknya pertanyaan nggak penting juga.

 

Atau money changer yang berderet puluhan kios di sepanjang area kelapa gading, yang justru ‘seharusnya’ dia lebih tahu, karena dia lebih hapal seluk beluk kelapa gading dibanding saya, yang kebanyakan naek angkot dan bajaj :D ..tapi sudahlah…

 

 

Terus terang saya sempat terfikir, jangan-jangan karena saya jealous, maka saya jadi berfikir jelek mengenai dia…dan saya coba kemukakan itu ke diri saya sendiri, ke adik kost saya, dan ke mbak nefti… karena saya gundah, saya sedih dengan perubahan dia yang membuat saya kurang nyaman ke dia.

 

Dan hal itu kembali dirunut dengan bagaimana traumanya saya ke Luar Negeri, karena setelah kembali tiba ditanah air, saya pendarahan dan masuk rumah sakit, akibat kelelahan yang teramat sangat, belum lagi waktu yg teramat singkat untuk menyelesaikan sekian jadwal bertemu, presentasi, meeting, negosiasi, sampai session ramah tamah yang br bisa selesai lewat tengah malam, dimana esok pagi harus terbangun lebih awal untuk mengejar pesawat pertama ke Negara berikutnya…

 

Ditambah makanan yang sangat tidak bersahabat untuk seorang muslim dan pembenci ikan seperti saya..duuhhh..rasanya Indonesia seratus kali lebih baik dibandingkan negara lainnya…

 

Kemudian 4 tahun ini, yang hamper setiap weekend, saya selalu nyusul kekasih saya di kota lain (saat dia bertugas) dan hamper di seluruh Indonesia..menghabiskan waktu sepanjang akhir minggu, refresing…rasanya tiap jumat sore saya selalu menjadi pembaca ayat kursi yang rutin saat pesawat take off…

 

Atau justru kegundahan saya di bulan – bulan ini, karena saya merasa jenuh dengan rutinitas yang mapan seperti sekarang ini…meski saya masih melarat juga, setidaknya pulang pergi menggunakan taske, busway, yang ber AC , makan di resto bagus..menjadi hal yang memuakkan semakin hari..

 

Sempat saya SMS ke sahabat saya dan bilang tentang kejenuhan dan kegundahan saya…dia suggest coba pulang pergi kantor lewat jalan yang berbeda…dan saya menuruti nasihat itu, dengan pola lain..saya PP lewat jalan yang berbeda dan naik Bus tidak AC alias mayasari bobrok dari blok M…

 

Saya sendiri kaget dengan efeknya ke saya, yang ternyata saya merasa nyamaaaannn sekali di tengah hiruk pikuk Bus Mayasari, yang menurut sebagian orang merupakan symbol proletarnya Jakarta..suara pengamen yang saling menyahut dengan suara abang kernet, yang juga menyahut dengan suara klakson dan makian abang sopir, rasanya sangat menenangkan saya…

 

Saya benar-benar membuka jendela bus dengan lebar, dan merasakan hempasa angina besar dari luar ke wajah saya..dan tersenyum…rasanya nyaman sekali….entahlah..bisa jadi saya manusia yang aneh…

 

Dari seluruh hal yang saya renungkan itu, mungkin lebih tepat saya bahasakan jika saya sedih, melihat perubahan yang terjadi pada sahabat-sahabat saya ini…

 

Saya sedih terhadap materialisme yang meraja diseluruh negeri ini..pola-pola konsumtif dan berpandangan bahwa materi adalah tujuan seseorang dan parameter kesuksesan di Jakarta..Rasanya Kapitalisme benar2 membuat semua orang menhamba dan mentuhankan Uang dan materi…

 

Hal tersebut jugalah yang membuat saya harus bertengkar hebat dengan Ibu Kandung saya sendiri, kemarin saat pulang kampung..

 

Saat kembali beliau menagih saya untuk segera menikah, dan kembali saya tolak dengan alasan belum ada yang cocok..dan saya kembalikan ke beliau dengan sekian contoh sepupu saya yang menikah muda sekarang menderita J

Beliau dengan sangat berapi-api dan keras kepala menyatakan tentang kebingungan dia karena saya tidak juga kunjung bisa menerima beberapa yang mendekat ke saya secara sempurna, padahal secara kemapanan, bisa dibilang tidak perlu diragunakan lagi…

 

Perih hati saya mendengarnya…bahkan Ibu saya, sekarang bukan lagi 100% sosok sederhana yang tinggal di Kampung terpencil dan hidup apa adanya…beliau punya obsesi besar bahwa akan ada sosok pangeran kaya raya yang akan menyelamatkan hidup kami sekeluarga atau minimal hidup saya….perempuan desa lugu yang saya kenal dulu, sudah terimbas pengaruh sinetron jahat yang terus menerus ditayangkan tiap harinya.

 

Atau beberapa laki-laki yang dekat dengan saya, ada yang bilang “aku pengen punya mobil alphard, kayaknya kl cowok pake mobil itu, kesannya mapan banget”..yang lainnya bilang “aku nggak suka kartolo (di kenduri cinta TIM), guyonannya gak intelek”, atau yang lainnya lagi bilang..”kemarin aku sama team keliling belanda, dan prancis, study banduing kesana..gak berasa habis smp 20an juta..untung ada simpanan khusus jadi keuanganku tdk terganggu”, atau berikutnya “ aku habis beli rumah di Depok Nell” atau selanjutnya “Gw benerin Rumah ortu habis sekian..sekian” atau yang lain “ gaji aku disini tiap bulan nambah Nell..awal 4 juta, sekarang ditambah tunjangan rumah dll , bulan kemarin 25 jutaan dan dilanjutkan dengan 1 jam cerita tentang gajinya yang berpuluh2 juta tadi”

 

Saya berharap, tulisan ini terbaca oleh beberapa rekan yang saya sebutkan tadi, atau mungkin oleh ibu saya sendiri..bahwa saya sayang mereka semua, dan saya sedih ketika saya harus menyaksikan satu demi satu rekan dan ibu saya terlena oleh materialisme dan diri sendiri hingga lupa pada kaum papa yang masih merintih kelaparan di seberang jalan sana…

 

 

 

 

 

 

 

 

4 Responses to “Sahabatku Menghamba Materialisme?? :(”

  1. Weh, weh… untungnya temen2 saya dari dulu bareng2 jatuh bangun tengkurep telentang. Jadi kalo ngomongin soal duit pun paling buat becanda doang. Misal:
    A: “Gila, dollar naek lagi…”
    B: “Iya, tau gitu simpenan gue di-convert ke dollar semua…”
    A: “Sama… Eh, itu tempenya dimakan kagak? Nasi gue masih banyak tapi lauk udah abis.”
    B: “Bole, tukeran ama rokok sebatang yak?”
    Hehehehe

  2. tulisan yg bagus.. sesuatu yang perlu direnungkan.. ^_^..

  3. Nice Writing…..
    Kejamnya Jakarta membuat orang mengukur segala sesuatu dengan materi
    Bagus buat orang yg masih mencari existensi diri :)

  4. Loh, kemana aja kau Nel? Khan udah lama manusia beranggapan bahwa “materi itu Tuhan”. Bahkan jauh lebih Tuhan daripada Tuhan itu sendiri. Dalam game yang sering saya mainkan, ada kata2 “Greed is Good”

Leave a Reply