17 Agustus…Obral Nasionalisme!!!

              17 agustus 2008 ini, seperti biasa, saya hanya berusaha memanjakan diri setelah sekian minggu setiap weekend seolah justru semakin mengejar saya dengan sekian banyak pekerjaan, ataupun kegiatan di luar rumah dan sekian janji yang harus saya tepati dengan orang-orang disekeliling saya.

 

               Jadilah long weekend kali ini, saya bulatkan tekad untuk benar-benar menghabiskannya sendirian, di kamar kost 2 x 3 meter saya tercinta ini dan memakan makanan yang saya masak sendiri dari apapun persediaan yang ada di kulkas :D , membaca buku2 yang sudah menuntut untuk dinikmati, menonton TV seharian, membuat cappuccino 1 kali setiap 6 jam, dan tentu saja tidur siang…satu hal yang sudah lama sekali tidak saya lakukan.

 

               Menonton TV di 17 agustus setiap tahun, rata-rata hal rutin yang dilakukan untuk menonton rutinitas yang tidak juga berubah. Upacara bendera, detik-detik proklamasi, mengheningkan cipta, dan pengibaran sang saka merah putih.

 

              Selama ini, tertimbun dalam gunungan masalah, membuat saya merasa bahwa sisa-sisa nasionalisme saya mulai luntur, mngkin yang masih tertinggal hanya setitik sisi ……..humanisme yang terkadang terusik ketika melihat satu dua hal yang saya temui dalam perjalanan ke kantor atau kembali ke kost2an.

 

                    Dulu..dikala saya masih hidup dengan budaya social nasionalis di kampus, mendengar lagu padamu negeri, atau Indonesia raya saat aksi maupun hanya duduk bersama dengan kawan2 saya, rasanya tidak berlebihan saya membahasakan hati saya seolah teriris, dan terharu…dan tak jarang juga kami bersama2 menitikkan air mata ketika menyanyikan lagu tersebut saat aksi di depan kantor gubernur atau kantor DPRD setempat.

 

                 Saat itu, setiap hari pikiran saya terjejali dengan semangat humanis nasionalis yang juga kebetulan kita dekat dengan realitas yang bias dan mampu kita sentuh secara langsung, sehingga mau tidak mau saya menjadi sosok yang idealis.

 

                    Sekarang ini, kesibukan saya, meskipun saya bekerja di satu lingkungan non profit organization untuk anak – anak dan bergerak khusus dibidang social, sehari-hari pikiran saya tetap terjejali dengan dead line pekerjaan dan target yang harus terpenuhi, dan tentu saja menyita hari saya dengan hal-hal berbau tantangan yang lama-lama menjadi rutin.

Saya tidak punya akses secara langsung seperti dulu pada saat saya masih di bangku kuliah.

 

                     Lunturnya semangat nasionalis saya mulai terasa saat ada aksi2 di jalan utama yang membuat macet, saya menyikapinya dengan menggerutu karena harus pulang terlambat akibat macetnya jalanan. Sempat juga beberapa kali merasa kangen dengan kondisi dahulu dan ingin kembali turun ke jalan, kadang pikiran bahwa hal itu hanya menghasilkan pewacanaan issue ke masyarakat saja dan protes yang tidak efektif kembali kerinduan itu menjadi sebuah kenangan yang semakin pudar.

 

                   Akhirnya, menjadi sebuah sinisme akan politik, apalagi saya dengar dari sepupu saya yang berkecimpung di dunia politik, bahwa banyak dilingkungannya yang menjadikan politik dan lahan kerja mereka hanya untuk hidup dengan sangat layak dan dipandang. Urusan rakyat…aaahhhh…itu kan hanya agitasi saja…menjadikan saya orang yang sangat tidak suka dengan plitik.

 

                  Kemarin, sempat bertemu dengan salah seorang kawan Jakarta yag kebetulan sedang ditugaskan di Kalimantan dan berkunjung di Jakarta untuk urusan laporan kerja. Sempat lama berdiskusi dengan dia sembari menghabiskan hamper 2 bungkus rokok..hahaha…balapan…

 

                  Bersama – sama mencoba menyikapi ‘apatisme’ yang semakin lama meracuni otak kami, dan saya tetap keukeuh dengan keyikan saya akan politik kekuasaan yang busuk dan sama sekali tidak memberi manfaat bagi rakyat…

 

“Gw benci politik dan sama sekali gak pengen terjun di dalamnya..!!”

 

 Begitu awalan yang saya berikan ke dia..yang otomatis memancing reaksi keras dari dia…maklum, dia dulu orang yang cukup vocal untuk salah satu partai :D …apalagi ketika saya menyampaikan maksud hati jika memang ada kesempatan, saya lebih memilih untuk berkecimpung sebagai aktivis humanis tanpa peduli akan politik dimana saya berada.

 

                    Bahwa, menurutnya bukan ketidakmampuan kita secara science dan belum cukupnya pengalaman yang menjadikan kita ‘malas’ untuk ikut berperan membenahi kondisi yang sekarang ada bukanlah alasan yang bisa diterima, tapi kesulitan dan kebelum’mapanan’ hidup yang membuat kami malas untuk berbicara hal yang idealis…

 

                    tapi seharusnya ‘ saat kita atau lo udah mapan secara financial untuk diri lo dan keluarga lo, baru kita berbicara tenatng membenahi struktur yang lebih besar, yaitu Negara..karena tanpa berperan dalam dunia politik, kedaaan akan terus sama, karena hanya orang2 yang sama dengan yang sekarang berperan…mereka hanya berusaha untuk memperkaya diri sendiri…dan tidak akan ada kebijkaan-kebijakan yang dihasilkan untuk kebaikan bagi masyarakat nell…” begitu katanya…

 

 

“Lo harus punya kemauan untuk ikut berpolitik nantinya, humanisme yang lo agung2kan akan mental dan jatuh ketika tidak di dukung dengan kekuasaan untuk membuat sebuah policy/kebijakan dengan niat baik lo itu…jadi mau nggak mau, ntuk memperbaiki yang sudah ada sekarang ini, kita harus terjun langsung ke politik di Negara kita…”

 

 

                       Hmmm…masuk akal juga..di 17 agustus ini, saya jadi teringat lagi percakapan kami kemarin…saat lagu hari merdeka, Indonesia raya, dan padamu negeri sampai dengan lagu bendera merah putih diobral di semua stasiun TV di negeri ini, perlahan, long weekened saya ini merupakan sebuah proses singkat untuk mengembalikan nasionalisme yang sudah mulai memudar..sensitifitas saya akan Negara ini mulai dibangunkan kembali..sempat beberapa kali menitikkan airmata melihat yang tengah terjadi nun jauh di seberang pulau sana di 63 tahun indonesia merdeka. Yang sama sekali belum tersentuh peradaban, komunikasi, ataupun satu wilayah perbatasan yang tidak memberlakukan rupiah sebagai salah satu mata uang yang dipakai dalam transaksi sehari-hari.

 

                  Katanya merdeka, tapi hampir semua makna kemerdekaan yang ada belumlah berlaku menyeluruh di muka bumi Indonesia ini, kemerdekaan dari kelaparan, rasa aman, sejahtera, berpikir, bertindak, berkata-kata, bahkan kemerdekaan merasakan tidak juga bias teraplikasi disemua sisi hidup individu2 di Indonesia ini..tentu saja, bukan satu sisi mutlak yang coba saya bahasakan disini, tapi lebih kepada aplikasi yang kita lakukan sehari-hari yang masih terus saya dibuntuti dengan sekian tatanan hukum dan peraturan atau nilai yang ada..dari sisi konstruktif tentu saja.

 

                    Dengan sisa harapan saya dan optimisme yang semakin hari semakin menipis, saya berharap mudah-mudahan masih ada sisa nasionalisme yang masih bias saya tumbuhkan kembali dengan cepat untuk ikut termotivasi memperbaiki system dan tatanan social di Negara saya tercinta ini, di tumpah darah saya..

 

                      Dan sepertinya euphoria yang semakin menghilang ini tidak juga hanya berlaku di diri saya sendiri, buktinya saat saya tanyakan salah satu bahasa pergerakan yang saya lupa, 5 kawan saya yang dulu paling getol bicara tentang hal tersebut (Agitasi, propaganda, provokasi, petakompli, atau Retorika…hahahaha..guys…sampe sekarang belum ketemu jawabannya..maap yak, udah menganggui liburan kalian!!!), LUPA semua…hehehehe……

 

 

                Ingin rasanya kembali bersama-sama mengepalkan tangan, dibawah kibaran sang merah putih dan menyanyikan lagu Padamu negeri seperti dulu….nasionalisme yang mungkin jika dipunyai semua orang., akan membuat Negara ini menjadi semakin baik, tidak hanya  tujuan – tujuan yang menguntungkan satu pihak saja tapi diatasnamakan untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat, atau tidak hanya euphoria kemeriahan kemerdekaan yang dirayakan sebagai ritual belaka, namun lebih kepada tekat bersama-sama untuk tidak kalah dengan bangsa lain yang sudah lari meninggalkan Indonesia yang semakin terseok2…mudah-mudahan….bukan sekedar jargon semata….

 

 

 

 

 

One Response to “17 Agustus…Obral Nasionalisme!!!”

  1. ehm…..
    kita hidup di atas tanah ini
    kita hidup dgn airnya…
    kita mati di kubur dlm tanah ini..

    entahlah dgn nasionalismenya..
    entahlah dgn retorika politiknya..dan sebagainya…

    ada suatu alasan mendasar untuk menjadikan tanah ini tanah air yang merdeka dan sejahtera…

    akhirnya ini hanyalah perwujudan kalo aku sebenarnya kangen ama kamu nel…

Leave a Reply