Sahabat…Terima Kasih atas semuanya

 

                    Isra Mi’raj kali ini, membuat saya kembali memundurkan langkah kenangan saya ke puluhan tahun silam.

 

                  Dulu, saat saya masih terlingkupi dalam budaya religius di kampung halaman, tahun 1987 sampai dengan tahun 1997, setiap tahunnya, sebelum Isra Mi’raj, saya dalam 15 hari berturut2 mengikuti ngaji kitab rutin dmulai setelah magrib sapai dengan pukul setengah 9 malam.

 

                   Untuk ukuran gadis kecil sampai dengan menginjak remaja, saat itu adalah saat yang menyenangkan…bukan pada esensi mengajinya (saya yakin, anda sudah berpendapat yang sama)…tapi lebih kepada aktivitas-aktivitas  ditempat selama menunggu giliran kita yang membacakan kitabnya. Bukannya menyimak..(yang menurut pengamatan saya hanya dilakukan oleh orang-orang dewasa, alias guru-guru mengaji kita)..kami semua selalu membawa bekal ke tempat mengaji, kue-kue kering, kerupuk, pilus, roti lapis, sampai berbagai macam buah, kami sembunyikan di tas plastic yang diletakkan di dalam sarung yang kita jadikan pelindung aurat..hahahahaha..tapi bersihlah….:D

 

                 Naahh…senjata-senjata pembunuh rasa bosan ini kami mulai edarkan diantara sesama teman mengaji, disamping-samping kami tentu saja, karena formasi tempat duduk kami adalah melingkar membentuk huruf O. kami mulai saling bertukar kue, buah (kedondong, salak, jambu air..biasanya hanya itu sih,.oh iya sama mangga muda), dan kerupuk2 satu dengan yang lainnya..bila acara mengaji itu sudah memasuki 20 menit pertama sampai dengan perbekalan kami habis tentunya .

 

                        Budaya ini, saya tidak tahu masih berlaku sampai sekarang atau tidak, karena kedua adik saya laki-laki semua, dan biasanya area ngaji laki-laki lebih bersih dari segala macam perbekalan, maklum lah..mereka suka ribet kalo harus bawa banyak-banyak makanan ke mushola…sarungnya juga cumin selapis doing..kalo perempuan kan, masih ada tas mukena, saku rok panjang, dilapisi sarung lagi..wahhh..seruu banget…!!!

 

                     Nah..pada akhir pengajian, selama 15 hari itu, yang kalau sekarang berarti semalam..kami mengakhiri masa 2 minggu ngaji giliran sampai malam itu dengan membawa takir…takir adalah satu bungkus nasi, yang terbungkus dengan daun pisang, dan didalamnya sudah berisi lauk pauk..biasanya standart sih..seperti ibu saya, yang biasanya memasakkan takir dengan lauk mie kuning pedes bgt, ditambah telor dadar..that’s al!!!…

 

                     Kami masing2 membawa takir dari rumah..dengan lauk suka-suka ibu kami masing-masing untuk membuatkan bekalnya ..biasanya masing-masing membawa 3 bungkus takir, yang setelah sampai kami letakkan takir kami semua ke tempat penampungan di mushola. Setelah sesi ngaji berakir dan berdoa bersama-sama seama setengah jam..(sampai ngantuk amin aminnya)..kami masing-masing dibagi 3 bungkus takir untuk dibawa ulang.  

 

                  Takir yang saya terima sudah dipilih secara random dari tumpukan sekian takir di mushola. Bisa jadi yang saya terima salah satunya adalah yang saya bawa sendiri, tapi seumur-umur saya menjalani pola serupa, tidak pernah sekalipun saya mendapatkan takir yang saya bawa dari rumah…kadang-kadang jika beruntung, saya bias dapat lauk yg sedikit lebih tinggi tingkatan gizinya daripada yg saya bawa dari rumah, misal lauknya sayur tahu tempe plus mie kuning, ditampah telor ceplok..(saya bilang tadi juga apa..sedikit lebih baik kaaannn???)

 

                  Tapi lebih banyak saya mendapatkan lauk yang …mmmm..biasa-biasa saja..artinya nilai izinya juga biasa2 saja, rasanya lebih biasa-biasa saja…tidak ada dari kami yang mengisi takir kami dengan ayam ataupun daging..entahlah, sampai dengan saat ini, saya tidak tau apa memang benar ada hokum tidak tertulis untuk tidak menyertakan daging-dagingan ke acara takiran tersebut, tapi feeling saya sih, karena di acara tersebut pihak mushola secara special menyembeih 2 sampai 3 ayam kampong besar dan dimasak seadanya sebagai satu kesatuan ayam (namanya apaaa yaaa….mmmm….aha..kata nenek saya tadi by phone namanya pindang wungkul..hehehehehe…).

 

                 Nah..setelah bagi2 takir tadi, kami semua menyaksikan pihak mushola, guru2 ngaji saya..mengabuse si pindang wungkul tersebut dengan sayatan-sayatan dan setelah terpotong-potong, kami akan mendapatkan beberapa sayat kecil dari ayam tadi…ya maklum lah..tiga ayam untuk sekian puluh orang.mungkin itulah alas an tidak ada yg membawa ayam , selain mungkin factor ekonomis yang menurut saya lebih dominant dari alas an apapun :D

 

                   Kami benar2 harus menerima satu paket jadi yang sampai ke tangan kami, tanpa protes..dan memang kami semua puas dengan takir apapun yang kami dapatkan. Hanya sebatas mengintip2 takir teman sebelah, dengan bisikan saling menanyakan, kamu dapet lauk apa?? Atau justru saling surprised ketika mengetahui bahwa takir teman sebelah adalah takir yg kita bawa dari rumah…hahahaha

 

                     Berbicara tebntang menerima satu paket jadi itu..saya mau tidak mau harus berterima kasih terhadap seluruh sahabat-sahabat saya dulu dan sekarang…yang bersedia menerima satu paket jadi satu dengan yang lainnya.

 

                     Dulu, saya sempat takut mengungkapkan sisi hitam saya kepada para sahabat saya tercinta, saya berpikir, bias jadi mereka menjustifikasi saya dengan sekian nilai yang sudah mereka anut dan mereka terapkan sedari kecil.dan tentu saya ketakutan saya mengungkapkan sisi lain itu karena saya tidak siap untuk kehilangan mereka….

 

                     Sampai dengan saya membuat sebuah keputusan, bahwa alangkah tidak adilnya saya sebagai seorang sahabat, ketika yang saya tunjukkan kepada mereka adalah sisi putih saya saja..tanpa mereka tahu sisi terkelam saya seperti apa. Saya mengambil resiko untuk kehilangan mereka dengan berkata yang sebenar2nya…

 

                    Dan jawaban yang keluar dari sau demi satu sahabat-sahabat saya sangatlah mengejutkan..saya sudah siap dengan sekian tudingan, makian, hinaan atau apapun bentuknya…sahabat pertama (by sms)  bilang…”actually nell, I am shock!! Tapi aku tetep nang sampingmu kok..no matter what happen. Just be strong yo nel..still I hope you get the best result after all..i love you sister…kabari terus yaa…itu sms yang sempat saya terima setelah saya seritakan semuanya…dan saya hanya bias menangis untuk berucap syukur..i am still the same Nell for him…

 

                  Sahabat kedua (by YM) bilang..apapn yang telah dan sedang terjadi ke kamu,apapun yang kamu lakukan..you still the same Nell kok..still the same ‘mum’ to me…dan aku yakin kamu punya alas an untuk melakukan itu semua…

 

                  Sahabat ketiga (by phone)…terus berjuang nell…dapatkan yang kamu impikan…jangan menyerah dong…aku yakin kamu bisa menang..hehehhehe

 

                    Sahabat keempat (secara langsung)…gw dulu udh pernah bilang sm lo…bahwa gw terima lo baik dan buruk..lagian gw percaya bgt bahwa lo pasti bakal baik2 aja kok..liat aja dulu..lo di Jakarta sempet kelaperan hidup di Jakarta..nyatanya sekarang juga lo masih disini..idup..di depan gw..hahahahhaa..temen saya..bahasanya aneh2 yaaaa…hehehehe..

 

                            Tapi…tidak juga semua org dekat saya berikan satu paket cerita…ada beberapa yang punya model seolah menginterograsi kehidupan saya..mengawasi hidup saya..untuk yang semodel ini, saya hanya bilang..jika mau stay silahkan, tapi mohon tidak usah mengawasi saya..saya sudah besar..jika tidak terima ya monggo..wong hak asasi kok..tapi yang saya lakukan kan tidak merugikan kamu..saya juga gak minta makan dari kamu kok…and the point is..this is all about my next responsibility….itu aja.

 

                           Prosentase yg seperti itu untungnya masih bias dihitung dengan jari sebelah tangan. Sisanya…tetap seperti biasanya…masih sama..loyal. baik, sayang, dan..sama seprti paket takir yang kami terima..lauk apapun..toh esensinya sama saja..kita medapatkan nasi untuk makan malam kita, setelah mengaji 15 hari..dan sekecil apapun sayatan ayam yg kita dapatkan..rasanya sudah ayam kok…

 

                     Seperti salah satu iklan di TV yang menyajikan tentang persahabatan dan tidak mengenal arti ‘menjauhi’ ketika sang sahabat tidak bisa berenang..dia justru mendekat dan melatih sahabatnya untuk berenang..sampai kemudian si sahabat yang tidak bisa berenang ini bisa menjadi juara dipertandingan renang ketika dia dewasa…Sahabat sejati, selalu setia….

 

Kawan..terima kasih atas semuanya….

 

 

Leave a Reply